Blogger Widgets
Berita Terbaru :
  • Dewan Guru

  • Wisuda Kelas 9

  • Snowalker

    Milad ke 13

  • Howling

    Juara 1 LT1

  • Sunbathing

    AB Adventure

  • Howling

    Juara 1 LT1

  • Sunbathing

    Gedung Asrama Putri

  • Sunbathing

    Paskibra Putri

  • Howling

    Upacara Pagi

Profil SMP IT ABU BAKAR YOGYAKARTA

SMP IT Abu Bakar Yogyakarta adalah Lembaga Pendidikan Islam dibawah naungan Konsorsium Yayasan MULIA, yang muncul sebagai alternatif solusi dari keresahan sebagian masyarakat muslim yang menginginkan adanya institusi pendidikan islam yang berkomitmen mengamalkan nilai-nilai islam dalam sistemnya, dan bertujuan agar siswa-siswinya mempunyai kompetensi seimbang antara ilmu kauniyah dan qauliyyah, antara fikriyah, ruhiyah dan jasadiyah sehingga mampu melahirkan generasi muda muslim yang berilmu, berwawasan luas dan bermanfaat bagi umat. Dengan berbekal semangat perubahan dan niat yang sungguh-sungguh, maka pada tahun 2001/2002 lahirlah SMP Islam Terpadu Pertama di Yogyakarta dengan nama SMP Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta Islamic Boarding and Full Day School. Enam tahun sudah SMP IT Abu Bakar Yogyakarta telah berkiprah di dunia pendidikan, dan telah mampu meluluskan siswa-siswinya dengan hasil yang memuaskan, baik dari kompetensi akademik maupun non akademik, meski harus banyak berbenah diri belajar dan terus belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada. Membimbing Sepenuh Hati Agar Sholih dan Berprestasi adalah Motto kami, pendidikan akhlaq, bahasa (Inggris dan Arab) serta Al-Qur’an merupakan program uggulan kami. Semua ini kami upayakan agar SMP IT Abu Bakar Yogyakarta mampu mencetak generasi yang siap mengambil peran-peran strategis dimasa yang akan datang.

VISI:
Melahirkan generasi muslim yang berpribadi Qur’ani unggul dalam Bahasa, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

MISI:
1. Meningkatkan kwalitas pembelajaran Ulumul Qur’an.
2. Menyelenggarakan program pembinaan pribadi Qur’ani secara intensif.
3. Meningkatkan program pembinaan dan pembiasaan berbahasa Arab & Inggris.
4. Melaksanakan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan.

Lima belas tahun yang lalu di Yogyakarta muncul lembaga pendidikan Islam  yang menamakan diri Sekolah Islam Terpadu (selanjutnya disingkat SIT) ditambah dengan nama full day school dan boarding school. SIT ini berdiri sejak dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan Sekolah Menengah Atas. Siswa-siswa sekolah ini berada di sekolah sejak pagi sampai sore, bahkan sebagian tinggal di asrama. Berturut-turut berdiri Taman Kanak- Islam Terpadu (TKIT) Muadz Bin Jabal 1993/1994, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Lukman Hakim 1995/1996, Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Abu Bakar 2001/2002. Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Abu Bakar 2004/2005.(Maksudin, 2006, hlm. 3). Informasi yang ada menunjukkan bahwa peminat SIT  cukup banyak Di beberapa tempat peminatnya melebihi sekolah-sekolah konvensional.
Mengapa Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Abu Bakar ( SMP IT Abu Bakar) berdiri di Yogyakarta? Dari informasi yang ada menunjukkan bahwa sekolah-sekolah konvensional di Yogyakarta pada umumnya dan sekolah Islam pada khususnya, dipandang oleh para pendiri SIT seperti mozaik tak berwarna, terlihat lukisannya, tetapi sulit dibaca alur dan bentuknya. (Maksudin, 2006, hlm. 22). Secara fisik pendidikan konvensional saat ini jelas keberadaannya, tetapi secara konseptual sulit dibedakan dengan pendidikan lainnya (Maksudin, 2006, hlm. 22). Selain itu sekolah konvensional yang ada dinilai  tak lagi mamadai manampung aspirasi sebagian anggota masyarakat. Aspirasi apa ? Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa sekolah konvensional dianggap tak memadai membentuk kepribadian  anak didik (kepribadian Islam maupun nasionalisme/cinta tanah air). Sekolah konvensional –yang hanya belajar selama 7 jam dalam sehari di sekolah—lebih banyak membangun kecerdasan  atau lebih berorientasi pada penguasaan materi secara teoritis (Wawancara penulis dengan Kep. Sek. SMPIT Abu Bakar Yk, Sabtu 20/03/2009).  Sementara aspek afektif yang tak kalah pentingnya dalam dunia pendidikan — pembentukan kepribadian Islam — sering terabaikan. (Wawancara penulis dengan Kep-Sek. SMPIT Abu Bakar Yk, Sabtu 20/03/2009).
Dilihat dari idealisme pendidikan, tampaknya SMP IT Abu Bakar dengan  full day school dan boarding school di Yogyakarta cukup menjanjikan untuk mengatasi tertinggalnya pembelajaran aspek afektif dan psikomotor PAI yang selama ini banyak dikeluhkan sejumlah pihak yaitu; waktu yang tersedia pendek, materi dan internasilisasi nilai Islam tertinggal dan paham nasionalisme yang hegemonik.
Terkait dengan judul di atas, maka dengan hadirnya SMP IT Abu Bakar pembelajaran PAI  di sekolah tersebut  memperoleh kesempatan yang sangat baik  untuk merealisasikan idealismenya.   Sejauh informasi yang ada menunjukkan bahwa para pengelola sekolah ini bertekad dan  berusaha keras membentuk lingkungan yang religius/Islami SIT.  (Wawancara penulis dengan Kep. Sek. SMPIT Abu Bakar, Sabtu, 21 Maret 2009). Kritik sejumah pakar bahwa pembelajaran  PAI sekarang sedang bergeser dari Pendidikan Agama Islam menjadi Pengajaran Islam-   dijawab oleh sekolah-sekolah ini dengan SIT full day school dan boarding school..
Mengapa penelitian ini mengambil tempat di SMP IT Abu Bakar  
          Yogyakarta?
Kekhasan yang dimiliki SMP IT Abu Bakar  kota Yogyakarta adalah fullday school dan boarding scholl. Para Siswa yang sekolah di sini belajar sejak pagi sampai sore, bahkan sebagian dari mereka tinggal di asrama. Khusus bagi mereka yang yang tinggal di asrama, secara total  belajar 24 jam dalam pengawasan guru dan memiliki aturan-aturan yang tidak dimiliki sekolah lain (Buku Panduan SMP IT Abu Bakar,Yogyakarta, 2008).
Untuk ukuran usia lembaga pendidikan, 15 tahun masih sangat muda. Tetapi pretasi yang di capai SIT cukup meyakinkan; 2001/2002 s/d 2005  /2006. Contoh SMPIT Abu Bakar 1. Rangking 2 SMP Swasta dan rangking 9 SMP Negeri/swast se kota madya Yogyakarta 2. Rangkin 5 jumlah nilai Unas se DIY 3. Juara III loma TOP Challenge of physics F MIPA UGM 3. Juara II aplikasi elektronik SMP se DIY 4. Juara 3 lomba rancang bangun elektronik Diknas  DIY.dll. (Wawancara penulis dengan Kep. Sek. SMPIT Abu Bakar, Sabtu, 21 Maret 2009).
           B. Rumusan Masalah
             Dari uraian di atas, permasalahan yang akan diteliti adalah :
1. Apa relevansi Fullday Shool dan Boarding School dengan implementasi PAI ?
2. Bagaimana pola  pembelajaran PAI melalui ‘pembentukan suasana religius’ di
SMP IT Abu Bakar full day dan boarding school.
3. Apa faktor penghambat dan faktor pendukung pembelajaran PAI tersebut ?
Pendekatan dan konsep
Pendekatan dan konsep yang akan digunakan dalam penelitian ini sbb:
  1. Komitmen individu terhadap ajaran Islam
    1. Hubungan vertical
    2. Hubungan horizontal
2.   Tindakan dan pemikiran individu (Ilmu dan amal)
  1. Interaksi social di sekolah
    1. Interaksi professional
    2. Interaksi kesedarajatan/kemanusiaan
4. Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan
             Definisi
Yang dimaksud dengan religius ? Menurut kamus besar bahasaIndonesia, religius berarti bersifat religi atau agama, atau bersangkut paut dengan agama (Kamus Besar BahasaIndonesia, 2000). Pembentukan suasana religius berarti menciptakan suasana keagamaan. Dalam kontek PAI berarti membentuk suasana agama Islam di sekolah.

Ruang lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah pembentukan suasana religius di sekolah
yang meliputi: 1. komitmen malkan  ajaran Islam diantara para pengelola: Kep. Sekolah, guru, staf dan siswa muslim 2. Loyalitas pengelola, guru, staf dan siswa terhadap aturan  : hubungan dengan atasan dan bawahan atau hubungan professional, hubungan kemanusiaan/kesederajatan.  Sedangkan hubungan dengan alam sekitar yaitu membangun komitmen untuk menjaga sarana dan prasarana sekolah: tempat ibadah, kebersihan dan keindahan lingkungan.
Bab 2. Tinjauan Pustaka
        1.  Pembentukan  Suasana Religius di Sekolah          
Apakah  dimaksud pembentukan suasana religius ? Kalimat tersebut memuat kata kunci ‘religius’. Religius berarti terkait dengan agama (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Yang dimaksud dengan suasana religius berarti  bersifat religi atau agama, atau bersangkut paut dengan agama (Kamus  Besar Bahasa Indonesia, 2000). Pembentukan suasana religius berarti  menciptakan suasana keagamaan. Dalam kontek PAI berarti membentuk suasana agama Islam, yang di dalamnya sarat dengan muatan pendidika.
Atau dengan kata lain pembentukan situasi religius berarti menciptakan suasana/iklim kehidupan agamis di sekolah. Dalam kontek PAI maka yang dimaksud dengan pembentukan suasana religius adalah menciptakan suasana kehidupan agama Islam di sekolah-sekolah. Lebih jauh dari itu adalah berkembangnya suasana kehidupan di sekolah yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam (Muhaimin, 2005, hlm. 61). Secara teoritis, factor lingkungan sangat mempengaruhi terhadap perlaki individu. Hamalik dalam Prihantoro membagi lingkungan menjadi 4 (empat) bagian yaitu 1. lingkungan social/masyarakat, 2. Lingkungan personal, 3. Lingkungan alam dan 4. lingkungan cultural (Prihantoro, 2007, hlm. 94).  Untuk membentuk karakter (nilai-nilai baik) pada siswa diperlukan pembinaan terpadu antara moral knowing dan moral feeling. Pembentukan suasana adalah upaya implementasi dari moral knowing dan moral feeling (Muhaimin, 2005, hlm. 58).
        2. Membangun Hubungan Vertikal dan Horizontal
Apa saja yang religius itu ? Dalam kontek PAI, yang religius adalah hubungan vertical yaitu manusia dengan Tuhan: Shalat, puasa, zakat.Bentuk kongkritnya adalah shalat berjama’ah, puasa wajib ramadhan, puasa sunnah senin- kamis.  Hubungan horizontal adalah hubungan sesame manusia dan dengan alam sekitar. (Muhaimin, 2005, hlm. 62). Hubungan sesame manusia meliputi:  komitmen menegakkan moral force dan hubungan  profesional kepada sesame siswa/karyawan dan guru, kepada atasan atau bawahan. Menegakkan moral force di sekolah dalam bentuk: loyalitas kepada atasan sesuai dengan aturan yang ada, penghargaan  kepada individu yang berprestasi, memberikan hukuman bagi yang bersalah.Sedangkan membangun hubungan professional di sekolah dalam bentuk komunikasi yang positif mendorong ke arah kemajuan lembaga  Sedangkan menciptakan lingkungan religius dilakukan dalam bentuk komitmen menjaga kebersihan lingkungan, tempat ibadah,  (Muhaimin, 2005, hlm. 63).
     3. Urgensi Pembentukan Suasana Religius
Fikiran normal akan mengatakan bahwa sesuatu yang tak masuk akal jika belajar Islam –baik sains maupun internaliasinya- hanya sekali atau dua kali tatap muka dalam seminggu. Sementara beban materi keislaman sedemikian padat. Apakah PBM PAI  dengan waktu yang pendek, materi sangat banyak dapat berjalan dengan baik ? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini.  .Melihat kenyataan ini, maka demi suksesnya PMB PAI diperlukan  paradigma yang berbeda dalam model pembelajaran. Pembelajaran PAI. Apa yang dimaksud dengan paradigma yang berbeda ? Yaitu para siswa di sekolah  sehari penuh bahkan bagi yang tinggal di asrama belajar selama 24 jam dalam control guru.. Namun demikian, suksesnya pembelajaran PAI merupakan kerjasama dan berbagi  tugas antara sekolah, orang tua/keluarga dan masarakat (Sri Haningsih, 2006, hlm. 9). Selain itu juga diperlukan pembinaan terus menerus di jam resmi sekolah ataupun di luar sekolah.
     4.      Boarding School
Encylopdia From Wikipedia menerangkan bahwa boarding school adalah lembaga pendidikan di mana para siswa tidak hanya belajar tetapi juga bertempat tinggal dan hidup menyatu dengan di lembaga tersebut (Wikipedia; http://en.wikipedia.org/wiki/Boarding School). Boarding School mengkombinasikan tempat di rumah, dipindah ke institusi sekolah, di mana di sekolahb tersebut disediakan berbagai fasilitas tempat tinggal; ruang tidur, ruang tamu, ruang belajar dan tempat olah raga, perpustakaan, kesenian.
Maksudin mendefinisikan bahwa boarding school adalah sekolah yang memiliki asrama, di mana para siswa hidup; belajar secara total di lingkungan sekolah. Karena itu segala jenis kebutuhan hidup dan kebutuhan belajar disediakan oleh sekolah (Maksudin, 2006, hlm.8). Mengapa boarding school ? Jawabnya adalah karena kelebihan model sekolah ini. Adapun kelebihannya yaitu: kelas lebih kecil, semua siswa dapat berpartisipasi dalam program belajar, mutu akademik dan skill menjadi prioritas boarding school, dapat memanfaatkan secara optimal sumber-sumber belajar, dan dapat berkomunikasi langsung dengan pembimbing (Maksudi, 2006, hlm.8).
Relevansi PAI dengan boarding school adalah model pembelajaran ini dinilai sangat baik untuk mengimplemantasikan pembelajaran PAI yang berorientasi pada muatan afektif dan psikomotor..Menurut sejumlah studi, boarding school menjadi standar bagi pendidikan yang berkarakter yakni proses rekayasa anak didik dinilai lebih baik dan out-putnya dapat dipertanggung jawabkan. Relevanansi lain yaitu materi PAI yang menuntut internalisasi nilai Islam dalam diri siswa, sangat mungkin  dapat dilakukan dan dikembangkan pada sekolah system boarding school. Dalam boarding school secara umum akan terbentuk: komunitasi edukatif antara  guru, siswa dan lingkungan, terjadi kedekatan siswa dengan guru, perilaku siswa terkontrol, problem yang  timbul segera terpecahkan, seluruh kegiatan terjadwal (Maksudi, 2006, hlm. 8).
      5.       Inti Persoalan
Sejumlah masalah dijumpai pada implementasi PAI di sekolah-sekolah.  Secara umum, masalah implementasi PAI dapat dikelompokkan menjadi 2 bagiann yaitu problem internal dan problem eskternal. Problem internal  yaitu: a. waktu pembelajaran PAI yang secara formal sangat terbatas, sementara itu, materi PAI yang sedemikian banyak harus disampaikan pada anak didik. B. Tuntutan PAI yang lebih banyak pada komitmen  aplikasi moral/nilai disamping cogniitif, mengalami kendala. Kendala tersebut adalah komitmen mengontrol, memberi  teladan dan arahan kepada anak didik, sehingga proses internalisasi nilai Islam pada didi anak dapat berjalan.  Problem eksternal yaitu tantangan sisi negatif modernisasi; materialisme, sekularisasi, alianasi dll., semuanya itu dampak sampingan pembangunan yang menjadi kebutuhan bangsa Indonesia.
Secara sadar keterangan di atas menunjukkan bahwa betapa PAI sedang dililit persoalan yang sedemikian berat, sehingga tak terbayangkan akibat negatif yang akan terjadi di masa depan jika tidak ada usaha-usaha yang serius pada saat ini.
Melihat masalah di atas, kami tidak mungkin membahas semua problem besar tersebut. Satu dari sekian banyak  masalah adalah upaya mengatasi keterbatasan jam belajar PAI, mengontrol perilaku anak dan memberikan keteladanan. Semua hal tersebut terakum dalam komitmen implementasi PAI dengan membentuk suasana religius di sekolah.
pembentukan suasana religius di sekolah  meliputi: 1. komitmen malkan  ajaran Islam diantara para pengelola: Kep. Sekolah, guru, staf dan siswa muslim 2. Loyalitas pengelola, guru, staf dan siswa terhadap aturan : hubungan dengan atasan dan bawahan atau hubungan professional, hubungan kemanusiaan /kesederajatan. Sedangkan hubungan dengan alam sekitar yaitu membangun komitmen untuk menjaga sarana dan prasarana sekolah: tempat ibadah, kebersihan dan keindahan lingkungan.
            6.  Keterkaitan
     1.  Relevansi Pembentukan  Suasana Religius di Sekolah dengan PAI         
Apakah  relevansi  pembentukan suasana religious dengan PAI ? Kalimat tersebut memuat kata kunci ‘relevansi’. Relevensi  berarti terkait dengan agama Islam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Relevansi Pembentukan situasi religius berarti keterkaiatan langsung PAI. Lebih jauh dalam kontek PAI maka yang dimaksud dengan relevansi pembentukan suasana religius dengan PAI adalah menciptakan suasana kehidupan agama Islam di sekolah-sekolah untuk kepentinan PAI.  Lebih jauh dari itu adalah berkembangnya suasana kehidupan di sekolah yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam (Muhaimin, 2005, hlm. 61). Secara teoritis, factor lingkungan sangat mempengaruhi terhadap perlaki individu. Hamalik dalam Prohantoro membagi lingkungan menjadi 4 (empat) bagian yaitu 1. lingkungan social/masyarakat, 2. Lingkungan personal, 3. Lingkungan alam dan 4. lingkungan cultural (Prihantoro, 2007, hlm. 94).  Untuk membentuk karakter (nilai-nilai baik) pada siswa diperlukan pembinaan terpadu antara moral knowing dan moral feeling. Pembentukan suasana adalah upaya implementasi dari moral knowing dan moral feeling (Muhaimin, 2005, hlm. 58).
2. Implementasi  Suasana Religius dengan Membangun Hubungan Vertikal dan Horizontal
Apa bentuk nyata  yang religius itu ? Dalam kontek PAI, bentuk nyata yang religius adalah membangun hubungan vertical yaitu manusia dengan Tuhan: Shalat, puasa, zakat,  shalat berjama’ah, puasa wajib ramadhan, puasa sunnah senin- kamis.  Hubungan horizontal adalah hubungan sesama manusia dan dengan alam sekitar. (Muhaimin, 2005, hlm. 62). Hubungan sesama manusia meliputi:  komitmen menegakkan moral force dan hubungan  profesional kepada sesame siswa/karyawan dan guru, kepada atasan atau bawahan. Menegakkan moral force di sekolah dalam bentuk: loyalitas kepada atasan sesuai dengan aturan yang ada, penghargaan  kepada individu yang berprestasi, memberikan hukuman bagi yang bersalah.Sedangkan membangun hubungan professional di sekolah dalam bentuk komunikasi yang positif mendorong ke arah kemajuan lembaga  Sedangkan menciptakan lingkungan religius dilakukan dalam bentuk komitmen menjaga kebersihan lingkungan, tempat ibadah,  (Muhaimin, 2005, hlm. 63).
3. Urgensi Pembentukan Suasana Religius Terkait PAI
Fikiran normal akan mengatakan bahwa sesuatu yang tak masuk akal jika belajar Islam –baik sains maupun internaliasinya- hanya sekali atau dua kali tatap muka dalam seminggu. Sementara beban materi keislaman sedemikian padat. Apakah PBM PAI  dengan waktu yang pendek, materi sangat banyak dapat berjalan dengan baik ? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini.  .Melihat kenyataan ini, maka demi suksesnya PMB PAI diperlukan  paradigma yang berbeda dalam model pembelajaran. Pembelajaran PAI. Apa yang dimaksud dengan paradigma yang berbeda ? Yaitu para siswa di sekolah  sehari penuh bahkan bagi yang tinggal di asrama belajar selama 24 jam dalam control guru.. Namun demikian, suksesnya pembelajaran PAI merupakan kerjasama dan berbagi  tugas antara sekolah, orang tua/keluarga dan masarakat (Sri Haningsih, 2006, hlm. 9). Selain itu juga diperlukan pembinaan terus menerus di jam resmi sekolah ataupun di luar sekolah.
              4. Relevansi Boarding School dengan PAI
Boarding school adalah sekolah yang memiliki asrama, di mana para siswa hidup; belajar secara total di lingkungan sekolah. Karena itu segala jenis kebutuhan hidup dan kebutuhan belajar disediakan oleh sekolah (Maksudi, 2006, hlm.8). Mengapa boarding school ? Jawabnya adalah karena kelebihan model sekolah ini. Adapun kelebihannya yaitu: kelas lebih kecil, semua siswa dapat berpartisipasi dalam program belajar, mutu akademik dan skill menjadi prioritas boarding school, dapat memanfaatkan secara optimal sumber-sumber belajar, dan dapat berkomunikasi langsung dengan pembimbing (Maksudi, 2006, hlm.8).
Relevansi PAI dengan boarding school adalah model pembelajaran ini dinilai sangat baik untuk mengimplemantasikan pembelajaran PAI yang berorientasi pada muatan afektif dan psikomotor..Menurut sejumlah studi, boarding school menjadi standar bagi pendidikan yang berkarakter yakni proses rekayasa anak didik dinilai lebih baik dan out-putnya dapat dipertanggung jawabkan. Relevanansi lain yaitu materi PAI yang menuntut internalisasi nilai Islam dalam diri siswa, sangat mungkin  dapat dilakukan dan dikembangkan pada sekolah system boarding school. Dalam boarding school secara umum akan terbentuk: komunitasi edukatif antara  guru, siswa dan lingkungan, terjadi kedekatan siswa dengan guru, perilaku siswa terkontrol, problem yang  timbul segera terpecahkan, seluruh kegiatan terjadwal (Maksudi, 2006, hlm. 8).
         5. Kritik Teoritik
Parapakar studi Islam sepakat bahwa banyak masalah dalam implementasi pembelajaran bidang studi PAI di sekolah-sekolah.  Sejumlah masalah tsb diidentifikasi sbb: pembelajaran PAI yang berjalan di sekolah-sekolah lebih berorientasi pada aspek kognitif dari pada kesadaran nilai. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa siswa sangat fasih bicara sain-sain keislaman –filsafat kalam, tarikh tasjri’, ilmu falaq, ulumul Qur’-an dan hadis, fiqh ibadah, fiqh mu’amalah dll—tak tanggung-tanggung dengan nilai amat memuaskan. Tetapi di sisi lain, pada saat yang sama sejumlah siswa melakukan hal-hal yang berlawanan; perkelaian, narkoba, minuman keras, anarkisme dll. Hanya itu ? Ternyata ada gejala lain di atas yaitu    pembelajaran PAI  mengabaikan atau cenderung meninggalkan aspek afektif yakni pembelajaran yang mendorong siswa bertekad mengamalkan ajaran Islam. Kenyataan di lapangan  para guru mengajar PAI mengarah ke aspek cognitive (Sejumlah Penelitian di FAI).  Mengapa hal ini terjadi ? Sejumlah informasi yang penulis dapatkan di lapangan antara lain  karena (1)  aspek cognitive lebih mudah pencapaiannya juga mudah cara mengukurnya. (Wawancara), (2)  pembelajaran afektif sulit pengukurannya. Pengukuran keberhasilan aspek ini tak cukup secara formal di kelas, tetapi juga non formal di luar kelas.  para guru PAI pada dasarnya sadar bahwa aspek afektifif  dalam pembelajaran PAI sangat penting, bahkan menjadi inti pembelajaran agama (Wawancara) . Akan tetapi para guru dalam pembelajaran PAI menghadapi sejumlah kesulitan terutama pada internalisasi nilai. Mengapa ? Karena internalisasi nilai merupakan proses panjang, tak instant yang hasilnya dapat segera diamati. Di sinilah guru-guru  PAI merasa bebannya sangat berat. Pada satu sisi guru dituntut berhasil dalam PBM PAI, di sisi lain, guru menghadapi kesulitan serius, pada hal  keberhasilan PAI –dengan tekanan   aspek afektif ini– merupakan tanggung jawab bersama antara guru, orang tua dan masyarakat.. Apa akibatnya kecenderungan ini?    Akibat nyata dari masalah ini adalah terjadinya kesenjangan antara gnosis dan praxis dalam kehidupan beragama Islam atau kesenjangan antara ilmu dan amal dalam kehidupan sehari-hari (Muhamiman, hlm. 23).Ditengarai oleh sejumlah ahli  bahwa Pendidikan Agama Islam dalam praktik sedang berubah menjadi Pengajaran  Agama Islam. Menyedihkan memang, tetapi itu adalah kenyataan.
Sejumlah informasi menunjukkan bahwa para guru tak kehilangan kreativitas dalam pembelajaran PAI. Mereka mencoba berbagai metode pembelajaran, seperti; diskusi, ceramah, karya wisata, (Penelitian di FAI UCY) yang semuanya untuk suksesnya belajar PAI. Namun demikian, kreativitas tersebut mengidap sejumlah kelemahan. Metode pembelajaran apapun yang dikembangkan masih dalam kategori tradisional, akontektual, normative, lepas dari sejarah dan semakin akademis. Secara materiil, gejala yang sangat menonjol adalah pembelajaran PAI kurang mendorong atau bahkan tak mendorong sama sekali penjiwaan nilai-nilai Islam yakni mengubah pengetahuan Islam yang cognitive oriented menjadi nilai Islam yang value oriented yakni internalisasi nilai Islam dan tekad mengamalkan ajaran Islam dalam kegiatan sehari-hari.
Tuntutan implementsi PAI di sekolah-sekolah tak sederhana. Dilihat dari kritik para ahli dan harapan-harapan masarakat yang dapat di rekam dalam pembicaraan sehari-hari sbb: pembelajaran PAI  hendaklah bukan sekedar penguasaan  sain-sains keislaman  par-exellence, yang mengarah pada kecerdasan ansih, tatapi PAI juga merupakan penanaman nilai keislaman pada diri siswa, sehingga nilai tersebut menjadi miliknya yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, bidang studi PAI janganlah berjalan sendiri, sebaiknya sering berinteraksi dengan bidang  studi lain agar PAI bukan sekedar statemen-statemen normative yang berbicara kewajiban-kewajiban, hukuman  dan ganjaran  saja. Tetapi PAI juga berbicara tentang perubahan social atau bahkan ikut serta ambil bagian dalam mengendalikan perubahan social.
Hararapan di atas  berarti meminta bidang studi PAI dan gurunya, keduanya sekaligus agar memainkan peran yang besar dalam ikut serta membentuk kepribadian siswa yang baik. Dengan kata lain, misi PAI dikatakan  berhasil jika mampu mengantarkan siswa memperoleh atau menguasai sain-sain keislaman secara baik, tetapi  juga mampu ikut serta  membentuk kepribadian muslim pada diri anak..
Persoalan yang muncul adalah metode pembelajaran seperti apa yang mampu  membentuk kepribadian secara efektif  ? Sejauh ini belum ada yang berani mengklaim bahwa suatu metode tertentu sangat baik untuk pembelajaran PAI aspek afektif. Perkembangan yang ada hanya mengindikasikan adanya upaya  guru mengkreasi metode pembelajaran PAI yang paling pas untuk pokok bahasan tertentu dan waktu tertentu.
Sejumlah informasi yang ada menunjukkan bahwa sudah banyak dikembangkan model pembelajaran aspek afektif oleh para guru di sekolah-sekolah, tetapi sejumlah kritik terhadap model pembelajaran segera hadir. Kritik-kritik tersebut menilai bahwa model pembelajaran PAI kurang mendorong penjiwaan nilai-nilai Islam,  metode yang digunakan masih dengan cara-cara tradisional; ceramah, diskusi, Tanya jawab, materi ajar tak kontek dengan  perubahan social,  bersifat etis/normative dan  doktriner. 
      6. Kesimpulan Teoritik
       Dari uraian di atas secara teori dapat ditarik kesimpulan bahwa :
  1. Pembentukan suasana religius yang dikemas dalam Fullday School dan Boarding School dapat menjadi model  pembelajaran PAI yang salama ini memiliki sejumlah keterbatasan waktu, keteladanan, kontrol dll.
  2.  Pembentukan suasana religius sangat relevan dengan PAI yang sarat dengan nilai/moral dan perlu komitmen implementasinya.
  1. Pembentuk sauasana religius dapat menganut pola pembelajaran dua kurikulum: a. Kurikulum formal yang diajarkan di kelas setiap hari b. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yakni  pembelajaran penanaman nilai  di balik setiap kegiatan.
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
                 Penelitian ini bertujuan untuk:
  1. Mengungkap implementasi pembelajaran PAI di SMP IT  Abu Bakar Boarding school.
  1. Mengungkap pola  pembelajaran PAI di di SMPIT Abu Bakar di
Boarding school.
  1. Nilai-nilai apa yang dikembangkan dalam pembelajaran PAI di SMP IT
AbuBakarBoarding school.
Manfaat penelitian ini adalah :
1.Memberikan konstribusi khasanah literatur metode pembelajaran PAI,
Di tengah luasnya samudra ilmu.
  1. Manfaat teoritis yakni mengembangkan bangunan model-model
pembelajaran yang bermanfaat untuk dijadikan bahan kajian.
3.Manfaat praktis yaitu manfaat yang dapat dijadikan solusi permasalahan
pembelajaran PAI di lapangan.
Bab IV. Metode Penelitian
  1. Desain Penelitian
Penelitian dirancang dengan menggunakan field research, pendekatan fenomenologis. Penelitian ini mendudukkan objek bersifat natural, dan holistik. Subjek penelitian bersenyawa dengan objek penelitian, karena itu maka penelitian ini menjadikan subyek penelitian dikonstruk secara ganda. Tujuan ini adalah untuk memahami makna (versetehen) dibalik fakta.
  1. Subyek penelitian adalah Kepala Sekolah, Wakil kepala Sekolah, Guru,
karyawan dan seluruh Siswa SMP IT Abu Bakar Boarding School. Obyek   
             penelitiannya adalah seluruh aktivitas Kep. Sekolah, Wakil Kep. Sekolah,
            karyawan, guru dan siswa terkait dengan pembentukan suasana dan
komitmen melaksanakan ajaran Islam : hubungan vertical, hubungan
horizontal, hubungan professional, hubungan kemanusiaan sesuai dengan
level dan unit kerja dan job masing-masing.
  1. Analisa Data
Analisa yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa bahasa dan konsep. Yang dimaksud dengan analisa bahasa adalah usaha untuk mengetahui arti yang sesungguhnya dari suatu peristiwa/perilaku. Sedangkan analisa konsep adalah analisa istilah yang mewakili suatu gagasan (Imam, 1994, hlm. 90).

Bab V. Hasil dan Pembahasan Penelitian

A.Sejarah Sekolah Islam Terpadu (SIT) Kota Yogyakarta

1. Sekolah Islam Terpadu
Informasi yang ada menunjukkan bahwa sebelum berdiri SMP IT Abu Bakar, terlebih dahulu ada sejumlah orang yang memiliki gagasan tentang perlunya pendidikan Islam terpadu. Sejumlah orang tersebut adalah Mujidin, Ery Masruri, Kholid Mahmud, Sukamto, Adam Pamuji, Budi Dewantara, Agus Sofwan (Maksudin, 2006, hlm. 21). Mereka melakukan diskusi rutin tentang pendidikan di Indonesia dengan hasil sbb: pendidikan Islam zaman klasik menghasilkan pribadi-pribadi unggul, seperti  Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abithalib dll. Mereka adalah pengendali negara, bussinessman, sekaligus ulama. Demikian juga pada era thabiin-thabiin; Al-ghazali, Ibn Rusjd, al-Kindi dll.
Bagaimana out-put pendidikan Indonesia ? Secara umum, menurut hasil diskusi mereka, out-pendidikan di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua): sebelum kolonial dan pasca kolonial. Ringkasnya, pendidikan sebelum kolonial menghasilkan tokoh-tokoh qualified: Teuku Umar, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dll. Perlu juga disebut fatahillah –designer kota Jakarta-.   Sekolah Islam terpadu yang akan mereka dirikan memiliki akar historis yang Qur’ani dan Nabawi (Maksudin, 2006, hlm 21). Fenomena tersebut yakni: kepribadian para nabi yang utuh, seperti; Nuh as, Musa as, Sulaiman as, Yusuf as., dll.
Dengan kata lain, out put pendidikan Islam di Indonesia sebelum kolonial; melahirkan pribadi yang utuh, seperti; fatahillah, wali sanga, dll. Setelah kolonial melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki kepribdian terpecah; beragama Islam, tetapi berpolitik, berekonomi tak Islami dll. Pendidikan Islam moderen di Indonesia menurut hasil kajian kelompok di atas, memiliki sejumlah kelemahan serius: 1. Disorientasi, 2. Alienasi, 3. Simplifikasi, 4. Sekularisasi (Maksudin, 2006, hlm. 22).
Problem Disorientasi.
Problem ini muncul akibat perubahan sosial yang dimotori oleh ilmu dan teknologi  begitu cepat, sehingga setiap orang/masyarakat dituntut menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia industri dan informasi, termasuk dalam pendidikan Islam.Akibatnya, pertimbangan-pertimbangan pragmatis sangat dominan dalam pendidikan Islam yakni alumni yang siap kerja dalam dunia industri. Hal ini sisi negatif dari industrialisasi adalah melahirkan dunia pendidikan yang pragmatis, menyelesaikan persoalan sesaat dan aspek idealisme pendidikan tertinggal.
       Problem simplifikasi.
Problem ini muncul akibat dari tuntutan kesejahteraan ekonomi (prosperety) sehingga ukuran-ukuran ekonomi menjadi standar kehidupan. Dunia pendidikan menjadi sarana untuk menciptakan anak didik menjadi mesin pencetak uang sebanyak-banyaknya. Kehidupan spiritual menjadi terabaikan. Nilai moral berlaku di wilayah tertentu, dan eksklusif dan membawa nilai moral dalam dunia ekonomi dan industri menjadi kampungan.
      Problem alienasi.
Yang dimaksud dengan problem alienasi adalah terpisahnya dua realitas sosial yang berbeda. Satu sisi, dunia industri yang bebas nilai/moral dan harus dimaklumi, sementara itu dunia pendidikan yang syarat nilai/moral seperti padepokan suci dan harus dijaga keutuhahannya. Anak didik akan mengalami hal yang sangat berlawanan dunia nyata, ketiak terjun di dunia kerja dan masyarakat.
     Problem Sekularisasi.
Sekular artinnya kekinian dan ke disinian. Yang dimaksud dengan problem sekularisasi adalah problem berkembangnya paham hidup yang mementingkan kekinian dan ke disinian. Hal ini berarti mengabaikan urusan urusan akhirat. Paham semacam ini sangat mempengaruhi terhadap dunia pendidikan, mungkin masih menempatkan agama sebagai mata pelajaran, tetapi hanya sebagai kepantasan saja. Out-put pendidikan ini berkarakter materialistis, religius labelling.
Dalam kontek itulah Sekolah Islam Terpadu didirikan. Berdirinya Sekolah Islam Terpadu selanjutnya disingkat SIT, berupaya membangun kembali paradigma pendidikin Islam yang meliputi: rekonstrukti epistimelogi, visi misi, metode pembelajaran, kelembagaan dan pengembangan kepribadian muslim. Adapun paradigma baru yang dimaksud berbasis pada: Kesempurnaan Islam sebagai Addien, manusia sebagai khalifah di muka bumi, kewajiban melakukan pendidikan, kewajiban melakukan dakwah.
Yang dimaksud dengan rekonstruksi epistimologi adalah membangun kembali metodologi keilmuan. Metodologi ilmu disesuaikan dengan visi dan misi Islam. Dalam hal ini adalah metode pembelajaran yang berbasis nilai Islam. Rekonstruksi fisik yakni penataan fisik; masjid, asesories, dan cara berpakaian guru, pimpinan para pengambil kebijakan. Rekonstruksi kepribadian muslim. Hal ini membutuhkan waktu panjang dan evolutif. Hal ini adalah pengaruh timbal balik antara rekonstruksi keilmuan dan fisik.
Untuk menjalankan rekonstruksi di atas, diperlukan konsep pendidikan Islam terpadu yang berasaskan: a. Kesempurnaan Islam sebagai Addien, b. Status manusia sebagai khalifah fil ardhi, c. Kewajiban orang mendidik anak d. Kewajiban dakwah (Ery Masrury: hal. 7-8).
                  B. SMP IT Abu Bakar Boarding School Yogyakarta
Secara historis SMP IT Abu Bakar ‘Boarding School’ memperoleh
inspirasi dari sejarah Islam klasik dan sejarah pendidikan Islam Indonesia –
pondok pesantren–.   SMP IT Abu Bakar Boarding School berdiri di atas
beberapa prinsip: kerja sama, keseriusan, dakwah, kontinyuitas dan
keterpaduan. SMP IT Abu Bakar berdiri pada tahun, 2000/2001.
  1. Susunan Pengurus Yayasan SMP IT Abu Bakar Boarding School
Agus Sofwan –kepala sekolah SMP IT Abu Bakar—mengatakann bahwa SMP IT Abu Bakar tak lepas berdirinya TK IT Mu’adz Bin Jabal, SD IT Lukman al-Hakim dan SMA IT Abu Bakar. Meskipun secara formal sekolah-sekolah tersebut berdiri di bawah yayasan berbeda, tetapi secara personal orangnya sama, hanya berganti posisi. Sejauh data yang ada, personalia pendiri SMP IT Abu Bakar Boarding School sbb:
  • Pembina : Drs. H. Sunardi Sahuri
  • Ir. Kholid Mahmud, MT.
  • Ketua Yayasan: Drs. Ery Masruri
  • Sekretaris         : Muhaimin SH., KN.
  • Bendahara        : H. Suranto, MT.
  • Bidang Pend. dan Peng.: Drs. Agus Sofwan dan Drs. Mjudjidin, Mpsi
  • Bidang Penel.Pengembangan: Dr. Sukamta dan Dr. H. Adam Pamudji
  • Rahardja, MSc.
Pada awalnya, ada cita-cita dari pengurus yayasan keinginan mendirikan SMP IT. Kemudian, diadakan workshop di PP Ibnul Qayyim, Yogyakarta. Hasil workshop trersebut diajukan kepada Dewan Dakwah Prop. DIY dan Badan Wakaf PDHI DIY. Disepakati dalam pertemuan tersebut akan didirikan SMP IT Abu Bakar. Atas prakarsa salah seorang donatur –H. Islami’l pemiliki Toko Batik Terang Bulan—memberikan infak yang cukup untuk mendirikan lokal SMP IT Abu Bakar. Sejauh ini sudah dua kali pergantian kepala sekolah: 2000/2001 s.d. 2003/2004 : Drs. Agus Sofwan,  2003/2004 s.d. sekarang Ahmad Salim, Sag.
  1. Visi, misi dan tujuan SMP IT Abu Bakar Boarding School Yogyakarta
Visi SMP IT Abu Bakar adalah menciptakan generasi Islam terbaik untuk mencapai kejayanaan peradaban Islam.  Misinya yaitu ngimplementasikan pendidikan Islam terpadu dengan berbasis pada organisasi sekolah sehat, kurikulum terintegrasi dan SDM yang unggul.
Tujuan SMP IT Abu Bakar Boarding School mencakup 4 hal; Pertama; mengintegrasikan ayat kauniyah dan qauliyah, iman, ilmu dan amal. Kedua, mengintegrasikan fikriah, ruhiah dan jasadiah. Ketiga, meluluskan siswa yang beraqidah lurus, beribadah secara benar, berakhlak mulia, berfikir ilmiah, berkepribadian mandiri, kretaif, disiplin dan berbadan kuat. Keempar, mendorong siswa bersemangat, penuh empati dan bertindak sepenuh hati. Mewujudukan generasi muslim berilmu, berwawasan global, bermanfaat bagi kemajuan Islam kaum muslimin (Dokumnetasi SMP IT Abu Bakar Boardingn School Yogyakarta).
Keempat rumusan tersebut dapat disimpulkan sbb: nilai integrasi, interkoneksi, dan keseimbangan. Ketiga nilai tersebut menjiwai susunan kurikulum yang dibuat di SMP IT Abu Bakar Boarding School Yogyakarta.
  1. Sistem Boarding School
Sistem Boarding School adalah model pendidikan yang diselengarakan secara penuh 24 jam. Siswa dan pengasuh/guru tinggal bersama-sama, dalam suatu tempat, disediakan tempat tinggal, jadwal pengajaran dan kegiatan-kegiatan lain.
Model pendidikan boarding school setidaknya memiliki 2 pra-syarat pokok yang harus dipenuhi; komponen fisik dan non fisik. Komponen fisik meliputi; masjid, ruang belajar, ruang tinggal (asrama). Asrama tinggal harus memenuhi syarat ruang: 4, 2m ditambah 1,6 m, jarak antar tempat tidur 0,9 m. Jendela minimal 0,5 m. Untuk setiap siswa memerlukan tempat 2,3 m, disediakan bathtub  setiap 10 siswa. Disamping itu ada ruang hall, ruang makan, fasilitas dapur, seni dan olah raga.
Komponen fisik yaitu segala aturan yang diterapkan disertai sangsi-sangsinya; jadwal shalat jama’ah lima waktu, kultum, piket kebersihan, keamanan,  jam belajar, izin keluar komplek dll. Kedia syarat di atas sudah dipenuhi oleh SMP IT Abu Bakar Boarding School. Adapun secara lebih ribnci sbb:
  1. Komponen fisik: Masjid, ruang kelas, ruang asrama, perpustakaan, laborat, aula, lap. Olah raga, ruang guru, POMG, perumahan kep. Sekolah. (LLC., Boarding School, 2003). Penataan fisik sbb: masjid berada di tengah antara sekolah dan asrama, kemudian lingkungan masyarakat. Gedung 1 unit 3 lantai.lantai 1 untuk sayap Barat: kelas III putri, Sayap timur untuk kantor. Sedangkan kelas III putra pada lantai II. Lantai II sayap timur untuk kelas VIII putri, dan sayap timur untuk kelas VII putri. Sedangkan lantai III untuk kelas VIII putra, dan sayap tumur untuk kelas VII putra.
Penataan ruang dimaksudkan agar siswa tahu adab/etika berumah tangga dengan baik, kelas ditempati jenis kelamin yang sama, agar mereka terjaga dari hal-hal yang negatif. Ruang kepala sekolah dan
wakilnya ditempatkan pada strategis agar dapat mengontrol semua aktivitas pembelajaran dan perkantoran. Jumlah asrama ada 7, 3 untuk putra dan 4 untuk putri.
Fasilitas fisik dilengkapi dengan: kamar tidur, tempat tidur, kamar mandi, WC, almari pakaian dll. Ukuran ruang untuk masing-masing siswa 3 x 4 m. Fasilitas olah raga disediakan di sebelah Barat masjid Abu Bakar. Faslitas olah raga tersebut meliputi: volley ball, tenis meja, sepak bola, badminton dll.
  1. Komponen non fisik: program pembelajaran regular (kurikulum resmi: pembelajaran di kelas dan luar kelas, laboratorium dan takhfidzul qur’an menghafal al-Qur’an paling tidak 3 tahun hafal 3 s.d. 4 juz al-Qur’an.
Perekrutitan tenaga guru, administrasi: dilakukan dengan seleksi secara ketat. Materi seleski meliputi: Ideologi keislaman, komitmen perjuangan, kemampuan profesional, kesehatan dll. Sedangkan pengangkatan serta pemberhentian kepala sekolah, guru dan staf diusulkan dalam rapat oleh sekolah atas dasar kebutuhan di sampaikan kepada BPH.
Pola pembinaan guru dilakukan sbb: secara periodik dengan materi terpogram, bagi tenaga pengajar ilmu eksakta disiapkan syari’ah, sedangkan tenaga pengajar ilmu dieniah disiapkan pola syari’ah dan metode pembelajaran.  Pembinaan potensi dilakukan kepada guru dengan cara up-grading dan training terjadwal. Pembinaan kepada guru tentang ilmu agama berkaitan dengan keilmuan klasik dan penguasaan fardhu Ain dan Kifayah, dilakukan pendalaman tentang psikologi anak.
Tujuan pembinaan ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan komitmen dan dedikasi mengajar yangb tinggi, profesional dalam menjalalankan tugas baik teoritik maupun praktik.
  1. Pola Pembinaan dan proses pembelajaran
Anak yang masuk ke SMP IT Abu Bakar, diseleksi secara ketat. a. Pengetahuan dasar umum dan agama yang cukup, b. Bacaan al_qur’an dan takhfidz yang cukup, c. kemampuan bahasa Inggris dan Arab yang cukup, d. Ahlakul karimah e. Keterlibatan dan partisipasi orang tua/wali.
Kemudian, raw in-put tersebut dianalisa karakteristiknya, dibuat kontrak belajar, diketahui bakatnya, dan motivasi belajar. Hasil analisa disampaikann kepada guru dan dibuat kelompok belajar. Dengan data tersebut guru dapat merencanakan pola pembinaan yang pas buat masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok didampingi seorang guru.
Proses pendidikan yang diberikan kepada siswa berprinsip pada: seluruh waktu adalah proses pembelajaran, guru mendampingi siswa merefleksikan ilmunya, menciptakan situasi kondusif di asrama untuk belajar. Misalnya: siswa dikut sertakan pada aktivitas ibadah qurban, bazaar, bakti sosial, pengajian rutin dengan masyarakat sekitar, setiap malam jum’at, takziah dan aktivitas bulan ramadhan, dll.
Bab VI. Kesimpulan dan Saran
A.Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
  1. Fullday School dan Boarding School yang dilakukan oleh SMP IT Abu Bakar sangat relevan dengan PAI yang sarat dengan nilai/moral dan perlu komitmen implementasinya.
  1. Pola pembelajaran di SMP IT Abu Bakar Boarding School menganut dua kurikulum: a. Kurikulum formal yang diajarkan di kelas setiap hari b. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yakni  pembelajaran yang berada dibalik formal;
  2. Menghindari dikotomi ilmu umum dan agama,
  3. Penanaman nilai dan moral Islam berada pada setiap kegiatan,
  4. Implementasi pembelajaran sepanjang hari,
  5. Kontrol anak didik melalui sistem sel: kontrol akademik, kontrol perilaku. Dengan kata lain, seluruh aktivitas siswa selalu terbimbing guru,
  6. Adanya keteladanan, menghormati posisi masing-masing,
  7. komitmen untuk melakukan pembelajaran yang terbaik bagi guru dan siswa serta perangkat pendukung lain.
B.Saran
  1. Model pembelajaran fullday school dan boarding school perlu dipertahankan dan
  2. perlu perbaikan dibeberapa sisi; mempertimbanghkan kejenuhan, perlunya tekad
  3. untuk melaksanakan PAI dengan sepenuh hati.
  4. 2.Fasilitas fisik; lapangan olah raga, badiminton, seni dll, perlu dilengkapi dengan
  5. sarana yang lebih memadai.
  6. 3.Penataan fasilitas masih perlu dilakukan; ruang Kep. Sekolah hendaknya dipisah
  7. dengan ruang administrasi.
Daftar Pustaka
Felix Sitorus., MT., dkk., ( 2004). Metodologi Kajian Komunitas.
Magister Profesional Pengembangan Masarakat, Dep. Ilmu Sosial da  Ekonomi, Fak Pertanian IPB dan Sekolah Pasca Sarjana  IPB.
Imam Barnadib, ( 1994) Filsafat Pendidikan; sistem dan metode (Yogyakarta: Andi Offset,
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), Dep. Pendidika Nasioanl, PN. Balai
Pustaka,  Jakarta.
Muhaimin (  2005) Pengembangan Kurikulum PAI di Sekolah,Madrasah, PerguruanTinggi. Rajawali Press, Jakarta.
Maksudin ( 2006) Pendidikan Nilai Sistem Boarding School di SMP IT Abu Bakar
(Hasil Penelitian Untuk Disertasi), Program Pasca Sarjana UIN Sunan
Kalijaga,Yogyakarta.
Prihantoro ( 2007) Peningkatan Minat Belajar IPS Dengan Memanfaatakn
Lingkungan di SMPN 2 Kedung Banteng, Kab. Banyumas, Jurnal Penelitian
dan Evaluasi Pendidikan, No.1, Tahun IX, UNY ISSN 14-10-4725.
Sri Haningsih ( 2006) Esensi Pendidikan Islam Dalam Keluarga, Perspektif Psikologi,
Jurnal Studi Islam, Kopertais, No. 20. Tahun XII. ISSN 0853-6759.
Team Perumus ( 2008). Buku Panduan SMP IT Abu Bakar
Yogyakarta. SMPIT Abu Bakar,Yogyakarta.
Wawancara Penulis dengan Kepala Sekolah SMP IT Abu Bakar
fullDaydanBoarding School(2009).Yogyakarta.
————————–
Daftar Riwayat Hidup
  • N a m a     : Taufik Nugroho
  • Tempat tgl/lahir: Banyumas, 11/02/1963
Pendidikan:
  1. IKIPNegeri Yogyakarta, Pendidikan Sejarah, 1981-1987.
  2. Pasca Sarjana, Magister Studi Islam, UMS 1997-1999.
Karya publikasi
  1. Metodologi Studi Islam, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah Kopertais Wil III., No. 6. th. VI, 1998. ISSN 0853-6759.
  2. Islam dan Masyarakat Madani, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah, Kopertais Wil. III., No. 9. th.VI, ISSN 0853-6759.
  3. Hubungan Islam dan Negara: Era Orde Baru, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah, Kopertais, Wil. III., No. 7. th. V, ISSN 0853-6759.
  4. Religion and Social Theory, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah, Kopertais Wil. III., ISSN 0853-6759.
  5. Hubungan Islam dan Negara Pancasila (Thesis diterbitkan)., Padma press,Yogyakarta, 2003.
  6. Mencari  Format Ideal  Hubungan Negara dan Agama di Indonesia, Jurnal Nuansa
  1. Akademik, Vol. I, No. 1, September 2005, ISSN 1858-2826.
  2. Madrasah Dalam Sistem Pendidikan Nasional, Jurnal Ilmu-Ilmu Agama,
  3. Ulumuddin, Vol. I, No. 1, Sept. 2005, FAI, UCY, ISSN 1907-2333.
  1. Orang Miskin dilarang Sekolah, Jurnal Ilmu-Ilmu Agama, Ulumuddin, Vol 1. No. 1,  Jan. 2006, FAI, UCY, ISSN 1858-2828.
http://faiucy.wordpress.com/2012/03/28/laporan-penelitian/



Share this Article on :

3 komentar:

Poskan Komentar

 
© Blog SMP IT ABU BAKAR YOGYAKARTA.